Sabtu, 09 Februari 2013

Perundingan Roem-Royen


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Meskipun kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, Belanda tetap saja tidak mau mengakui kelahiran negara indonesia dengan melakukan  tindakan – tindakan polisionil yang nampak dalam agresi militer satu dan dua. Disamping Belanda pun membuat negara boneka yang bertujuan mempersempit wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Negara boneka tersebut dipimpin oleh Van Mook.
 Belanda mengadakan konferensi pembentukan Badan Permusyawaratan Federal(BFO) yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 1948.
Dan pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda mengadakan Agresi Militer Belanda dengan menyerang kota Yogyakarta dan menawan Presiden dan Wakil Presiden beserta pejabat lainnya. Namun sebelum itu Presiden mengirimkan radiogram kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara yang mengadakan perjalanan di Sumatera untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) sebagai mandat politik., untuk tetap menjalakan pemerintahan.
Dengan begitu Indonesia menunjukkan kegigihan mempertahankan wilayahnya dari segala agresi Belanda. Yang menarik disini adalah bagaimana dunia internasional mulai memperhatikan Indonesia yang mendapat tekanan dari Belanda, hal ini memang tidak terlepas dari politik diplomasi yang memang diarahkan untuk mendapatkan simpati dunia Internasional, seperti dengan memberi bantuan 50. 000 ton beras ke India, sehingga masalah intern dalam negeri pun tidak luput dari perhatian PBB.
Akhirnya konflik bersenjata harus segera diakhiri dengan jalan diplomasi. Dimana isi dari perjanjian Roem – Royen ini adalah dilakukannya gencatan senjata, dan menghentikan perang gerilya yang jika dilihat dari sisi positifnya adalah Indonesia dapat meminimalisir jatuhnya korban lebih banyak, dan membuka jalur diplomasi lainnya, yakni KMB sebagai ujung dari perjuangan diplomasi Indonesi. Dan atas inisiatif Komisi PBB untuk Indonesia, maka pada tanggal 14 April 1949 diadakan perundingan di Jakarta di bawah pimpinan Merle Cochran, Anggota Komisi Amerika. 
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sikap TNI atas perjanjian Roem – Royen ?
2.      Bagaimana situasi politik setelah perundingan tersebut ?

C.    Tujuan
1.    Mendeskripsikan bagaimana tanggapan pihak militer, sehubungan dengan diadakannya perjanjian Roem – Royen.
2.    Menjelaskan bagaimana situasi politik di Indonesia, pasca perundingan Roem – Royen.

D.  Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan makalah ini terbagi kedalam tiga bagian, yaitu Bab I, Bab II dan Bab III.. BAB I, berupa pendahuluan yang berisi mengenai latar belakang penulisan makalah, rumusan masalah yang terdapat di makalah, tujuan dalam penulisan makalah, metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini dan sistematika dalam penulisan makalah.
BAB II, berupa isi dari makalah yaitu mengenai dampak yang terjadi setelah perundingan tersebut, baik reaksi militer maupun situasi politik yang terjadi di Indonesia.
BAB III, berupa kesimpulan yang menyimpulkan pembahasan dari beberapa permasalah dalam makalah ini.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sikap TNI setelah  Perjanjian Roem-Royen
Hasil perundingan Roem-Royen ini mendapat reaksi keras dari berbagai pihak di Indonesia, terutama dari pihak TNI dan PDRI, ialah sebagai berikut:
Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia Jenderal Sudirman pada tanggal 1 Mei 1949 mengeluarkan amanat yang ditujukan kepada komandan-komandan kesatuan memperingatkan agar mereka tidak turut memikirkan perundingan, karena akibatnya hanya akan merugikan pertahanan dan perjuangan.
Amanat Panglima Besar Sudirman itu kemudian disusul dengan maklumat-maklumat Markas Besar Komando Djawa (MBKD) yang meyerukan agar tetap waspada, walaupun ada perundingan-perundingan yang menghasilkan persetujuan.
Perkiraan TNI terhadap kemungkinan serangan dari pihak Belanda tidak meleset. Pasukan-pasukan Belanda yang ditarik dari Yogyakarta dipindahkan ke Surakarta. Dengan bertambahnya kekuatan Belanda di Surakarta dan akibatnya Letnan Kolonel Slamet Riyadi yang memimpin TNI di Surakarta memerintahkan penyerangan-penyerangan terhadap obyek-obyek vital di Solo. Di tempat lain pun perlawalan gerilya tetap berjalan, tanpa terpengaruh oleh perundingan apa pun hasilnya.
Kemudian bersamaan dengan berlangsunya Konferensi Inter-Indonesia pada tanggal 1 Agustus 1949 di Jakarta diadakan perundingan resmi antara Wakil-wakil RI BFO dan Belanda di bawah pengawasan UNCI yang menghasilkan Persetujuan Penghentian Permusuhan. Presiden selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI melalui Radio Republik Indonesia di Yogya pada tanggal 3 Agustus 1949 mengumumkan perintah menghentikan tembak-menembak, hal serupa dilakukan pula oleh Jenderal Sudirman, Panglima Besar TNI. Pada hari yang sama, AHJ Lovink, Wakil Tinggi Mahkota Kerajaan Belanda sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Belanda di Indonesia memerintahkan kepada serdadu-serdadunya untuk meletakkan senjata, yang berarti kedua belah pihak menghentikan permusuhan secara resmi yang pelaksanaannya diawasi oleh KTN dari PBB.
Dalam perjanjian Roem-Royen ini pihak angkatan perang sebaliknya menyambut adanya persetujuan itu dengan perasaan curiga. Panglima besar angkatan perang Jenderal Soedirman pada tanggal 1 Mei 1949 memperingatkan kepada para komandan kesatuan agar tidak memikirkan masalah perundingan. Pernyataan sama untuk mempertegas amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman dikeluarkan juga oleh Paglima Tentara dan Territorium Jawa Kolonel A.H. Nasution pada tanggal 5 Mei 1949. Pernyataan itu mengetengahkan bahwa perundingan yang dilaksanakan itu hanyalah merupakan taktik perjuangan, dan diperingatkan kepada semua komandan agar membedakan antara gencatan senjata untuk kepentingan politik dan untuk kepentingan militer. Pada pokoknya dari kalangan angkata perang tidak terdapat kepercayaan akan berhasilnya perundingan karena menurut pengalaman dengan Linggarjati. Renville, dll. Perundingan atau persetujuan dengan Belanda dianggap selalu merugikan perjuangan. Sebagai tindak lanjut dari persetujuan Roem-Royen, pada tanggal 22 Juni diadakan perundingan formal antara RI, BFO dan Belanda di bawaha pengawasan komisi PBB, dipimpin oleh Critchley (Australia). Hasil perundingan itu adalah:
1.    Pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 1949. Karasidenan Yogyakarta dikosongkan oleh tentara Belanda pada tanggal 1 Juli 1949 dan pemerintah RI kembali ke Yogyakarta setelah TNI menguasai keadaan sepenuhnya daerah itu
2.    Mengenai penghentian permusuhan akan dibahas setelah kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta
3.    Konferensi Meja Bundar diusulkan akan diadakan di Den Haag
Setelah para pemimpin RI berkumpul kembali di Yogyakarta, maka pada tanggal 13 Juli 1949 jam 20.30, diadakan sidang kebinet RI yang pertama. Pada kesempatan itu, Mr. Sjarifudin Prawiranegara mengembalikan mandatnya kepada Wakil Presiden/Perdana Mentri Moh. Hatta. Dalam sidang kabinet diputuskan untuk mengangkat Sri Sultan Hamengkubowono IX sebagai Mentri Pertahanan dan Koordinator Keamanan. Divisi III di Jawa Tengah terhitung cepat dalam menyusun pertahanannya, mereka telah membagi dalam 3 daerah pertahanan, yang disebut’wehkreise’. Wehkreise I dipimpin oleh letnen kolonel mohammad bakhrun, posnya berada disebelah selatan purbolinggo. Wehkreise II dpimpin letkol suharto, posnya sebelah utara purworejo Wehkreise III dipimpin letkol sarbini, posnya didaerah pegunungan manoreh.

Daerah wehkreise I
Dalam perkembangan keadaan gerilya dapat diuraikan sebagai berikut. Dengan tibanya bantuan dari batalion lain maka aksi gerilya meluas namun tanpa koordinasi.
Pada tanggal 4 januari 1949 lurah desa pakajangan terbunuh oleh 5 orang denagn pistol. Pada 10 januari 1949 pasukan dari divisio siliwangi menyerang pos AP dan kantor wedanan di randudongkal, orang cina setempat menyatakan bahwa pasukan tersebut tidak menggangu mereka.
Tanggal 23 januari 1949 pukul 10 pagi kereta api dari purwokerto ke tegal diserang di dekat bumiayu, pada sebuah tikungan beberapa baut telah dicabut, sehingga kereta api itu sebagain jatuh kedalam sungai, para pengawal dapat menghalau para penyerang sesudah terjadi tembak menembak, diantara penumpang kereta ada tujuh orang mati.
Pasukan siliwangi dalam perjalanan kembali ke jawa barat sering mengadakan serangan di tengah jalan, baik untuk melindungi teman teman maupun perbekalan.
Pada 6 Februari 1949 pukul 2 malam diadakan yang pertama ke kota pemalang, penghadangan pada pagi hari tanggal 8 Februari di pengiringan memusnahkan 2 truk musuh beserta penumpangnya, kota belik di selatan digempur pada 11 februari malam hari, dalam serangan ini sebuah truk musuh yang penuh penumpoang rusak karena melanggar ranjau yang dipsang pasukan.
Tak lama kemudian diadakan pula serangan malam terhadap kota pemalang selama beberapa jam. Tanggal 18 februari penguasa onderneming petarukasn dan bandarjawa di kepatihan pemalang, van der rest, ketika mengunjungi pabriknya telah masuk perangkap dan mati tertembak.
Hasil serangan pada bulan maret adlah pada tanggal 9 februari malam perkebunan karet prumpangan diserang oleh pasukan gerilya, ternyata perkebunan itu dijaga denagn kuat oleh militer belanda sehingga serangan kurang berhasil.
Tanggal 12 sebuah jeep milik perkebunan tomo wonodadi ditembak oleh para gerilya, istri administratur perkebunan tersebut, nyonya hoppe tewas.
Tanggal 10 april 1949 malam’subwehkreise’ suhadi melancarkan derangan malam atas kota batang, sementara itu sebuash jeep yang datang dari semarang dihancurkan, sedangkan sebuah pantserwagen melanggar ranjau darat, berapa korban musuh tidak dapat diketahui.
Suatu aksi pembersihan oleh musuh yang menyerbu denagn 4 kolone  di desa bukus kajen mengakibatkan terjadi pertempuran yang berlangsung antara pukul 3 sampai 6 sore.
Penghadangan pasukan gerilya pada 15 april  didesa banjarsari terhadap kereta api pagi yang terdiri dari 2 lokomotif dan 13 gerbong, mengakibatkan pertempuran sekitar 1 jam, pasukan musuh menembak dar dalam gerbong yang kemudian dapat dikalahkan, dua orang masinis dan stoker ditawan, dua jam kemudian pasukan musuh berdatangan denagn truk dan pesawat pemburu, pasukan gerilya pun mengundurkan diri.
Tanggal 1 februari sebuah patroli musuh mengepung desa semayu, kemudian menembaki kampung, tujuh rumah terbakar, 59 orang jadi korban. Dan aksi pembersihannya di kilimanuk mengakibatkan kerugian di pihak gerilyawan.
Pengeroyokan oleh musuh terhadap kampung kampung hampir setiap hari terjadi, ditambah lagi denag penembakan dan penyitaan, serta tindakan lain yang membuat rakyat menderita.

Daerah wehkreise II
Berada di bawah pimpinan letkol sarbini.
Pada 5 januari 1949 kota magelang mulai mendapat serangan gerilya, gudang pakaian musuh dapt dikuasai, dan berhasil membawa bahan pakaian tapi dapat direbut kembali oleh musuh.
22 januari gerilyawan menyerang dengan 1 peleton, hasilnya seminari yang ditempati oleh musuh mengalami kerusakan, lalu pada 26 januari pasukan gerilya menyerang lagi untuk kedua kalinya dan seminari ityu dibakar, markas musuh dilempari granat.
3 februari kota temanggung mendapat giliran, gerilyawan menyerbu kedalam dan melakukan kekacauan selama sejam.
Kota purworejo pada saat itu pula diserang oleh pasukan gerilya yang bersarang di sekeliling kota. Pada 6 februari satu peleton menyelundup kedalam kota magelang, selama 6 jam mereka melakukan pembakaran, penembakan dan penghantaman terhadap kakitangan NICA. Kota distrik parakan diserbu pada hari berikutnya, dalam pertempuran malam yang berlangsung sekitar 3 jam beberapa orang musuh berhasil ditewaskan. Kota kebumen bertutrut-turut  diserang pada tanggal 8,9 dan 10 maret oleh batalyon sudarmo, hasil dari pertempuran itu sama –sama menewaskan beberapa prajurit.
Tanggal 2 april para gerilyawan melancarkan serangan terhadap grabag yang dibantu sepenuhnya oleh rakyat, hasilnya kemenangan berhasil didapatkan. Pada tanggal 1 mei tepat pukul 08.30 pagi grabag diserbu dengan kekuatan 4 kompi, balabantuan musuh berdatangan dengan truk dan kereta api dari magelang, namun balabantuan ini dihadang oleh 2 peleton gerilyawan dalam kereta api ada 9 korban sedangkan 3 buah truk dengan penumpangnya debinasakan. Tepat pada hari lahir ratu juliana tanggal 30 april kota magelang diserang dengan tembakan mortir, yang ditujukan ke jembatan kali elo dan tangsi-tangsi.
Pada awal bulan maret kegitan penghadangan disekitar magelang diperketat, penghadangan itu berhasil mebinasakan dua buah truk beserta penumpangnya. Tanggal 28 maret pagi kompi gatotkoco menghadang sebuah konvoi belanda yang terdiri dari sebuah jeep dan 5 truk bermuatan tentara, setelah jeep dan truk pertama lewat, yang berikutnya baru ditembaki. Sebuah truk hancur dengan isinya, dan dalam pertempuran jarak dekat sebuah truk lagi berhasil dirusak dan beberapa senjata dirampas.
8 april KODM muntilan mengerahkan 600 orang untuk merusak jalan raya dan rel kereta api di blambang. Satu peleton kompi menghadang sebuah konvoi di dekat salam, penghadangan pada esok harinya di blondo dan japenan berhasil meluluhkan musuh.
Sementara itu kegiatan penghadangan di daerah kebumen, dua regu TNI yang bersarang di gunung mijil memasang bom tarik hasilnya beberapa truk berhasil dihancurkan, namun bantuan musuh segera datang setelah bertempur pasukan gerilya akhirnya mundur.
Pada tanggal 23 februari didesa blancir patroli musuh menembak 17 orang penduduk sehingga tewas semuannya. Pada hari itu pula wonoyoso patroli musuh bertempur denagn AUI. Dua hari kemudian 5 pesawat terbang musuh melancarkan serangan udara terhadap desa ambal. Mereka menjatuhkan 30 bom dan menembak dengan mitralyur.
Tanggal 2 maret patroli musuh bergerak ke kendenter, kenteng dan pinang kulon, ditempat ini mereka merampas uang rakyat, sejumlah kain, obat dan beberapa wanita diperkosa, dalam perlawanan yang dinerikan pasukan gerilya dibendungan, kepala staf brigade 9, mayor ismullah ditawan musuh. Pada 19 maret pasukan belanda menuju ke sruni untuk menghantam pasukan AUI.
Pada 11 april musuh melakukan pembersihan di bagelen dan jenar. Dalam pertempuran disana seorang pasukan gerilya gugur, pertempuran denagn AUI di wonosari mengakibatkan 5 pasukan gugur, pasukan AUI tidak mengindahkan provokasi musuh dan terus berjuang dengan TNI melawan penjajah. Dari hari ke hari mulai tampak bahwa musuh kemampuannya hanyalah sampai menduduki satu-dua tempat sambil berpatroli 10km disekitarnya.
Pada tanggal 3 dan 4 januari malam kota sumpiuh berturut turut diserbu. Penyerbuan pertama dilakukan malam hari serangan dilancarkan dari berbagai jurusan, ditujukan pada pos dan bivak militer yang terletak dimuka dan disamping kewedanaan. Tembak menembak kemudian terjadi pabrik beras srikaton malam itu dibakar. Serasngan kedua ditujukan pada pos-pos militer, dan dilakukan dari jarak dekat dengan menggunakan mortir dan granat.
Pada tanggal 29 januari kota distrik majenag diserang oleh seksi suropati. Di pihak musuh jatuh beberapa korban juga konvoi pagi itu dihadang antara ciawitali onderneming kawung dengan 1 kompi. Dua truk dan 3 orang musuh menjadi korban, beberapa jam kemudian usaha untuk melucuti algemene politie di gandrungmangun gagal, karena musuh mendatangkan bantuan dengan kereta api. Pada saat gerilyawan di kota distrik sidareja bertempur denagn musuh, pasukan gerilya mendapat pukulan telak karena banyak prajuritnya yang tewas, beberapa hari kemudian kompi suwaji membalas denagn serangan atas kota distrik maos, sejumlah bangunan penting dibakar.
Aeal bulan maret sepassukan peronda polisi yang terdiri dari 27 orang dari datasemen salatiga disertai oleh 6 pegawai IVG memasuki desa jomblang untuk menangkap beberapa anggota pasukan merbabu. Mereka disambut denagn tembakan , mortir dan senapan oleh gerilya yang ada ditempat itu. Patroli terseburt segera mencari perlindungan, lalu membalas menembak. Sesudah berlangsung tembak menembak patroli polisi tampaknya kehabisan peluru. 2 buah truk dengan 30 orang serdadu zeni KL yang kebetulan lewat segera memberi bantuan. Ketika itu juga pasukan gerilya mendapat bantuan. Di pihak musuh kemudian datang militer lebih banyak lagi di salatiga dan datang 2 pesawat pemburu dari semarang.
Menghadapi kakuatan musuh yang beghitu besar, pasukan gerilya terpaksa mundur dengan tergesa –gesa denagn meninggalkan senjata, mortir, serta surat-surat penting. Didaerah kendal berangsur-angsur kegiatan gerilya terasa kembali dan menyerang desa sukareja, beberapa rumah dibakar. Bisa dikatakan bahwa didaerah semarang khususnya kabupaten semarang, pemerintah belanda lumpuh,

Daerah wehkreise III
Meski pada awalnya masyarakat yogya tidak ada semangat untuk melakukan perlawanan, namun lama kelamaan semangat itu kembali berkobar. Sebelum serangan dilancarkan ada beberapa rencana dalam melakukan serangan tersebut, yaitu: 1. Mengadakan serangan malam
                2. menghancurkan kekuatan musuh sebanyak-banyaknya
                3. merampas senjata musuh sebanyak-banyaknya
                4. membumihanguskan tempat yang dianggap penting
Tanggal 29 maret 1948 jam 16.00 pasukan gerilya sudah siap sedia, lalu bergerak ke tempat pangkalan penyerangannya masing –masing. Lebih kurang pada jam 7 malam semua telah sampai ditempatnya, penyerangan dilakukan dari segala arah.
Jam 21.00 tembakan pertama dimulai kletika pasukan yang bergerak kedalam. Pasukan gerilya telah dapat menduduki tempat masing-masing disekitar kantor pos, dan secodiningratan, nagbean, patuk, pkuningratan, sentul dan pogok. Tembak-menembak di tepi kota semakin sengit. Belanda menebak terus menerus, mungkin karena pasnya yang ada ditepi kota mendapat serangan maka pasukan yang ada di kota bersiap membantu. Namun begitu keluar dari tangsinya pasukan belanda disambut pasukan gerilya yang telah menunggu disitu, terjadilah tembak menembak, pasukan gerilya yang telah bersiap menyerbu tiap tangsi dari belakang segera menyerbu ke dalam,
Pertempuran terjadi hingga pukul 04.00. pasukan gerilya mulai meninggalkan kota menuju tempat masing-masing. Pada pertempuran ini belanda banyak menelan korban. Pasukan gerilya yang datang dari arah selatan baru sampai 1km dari tepi kota. Pasukan belanda yang menyerang bantul dengan mengadakan omweg, pada 30 desember bergerak menuju kota, pasukan tersebut berjumpa dengan pasukan gerilya dari sektor selatan yang baru kembali dari menyerang kota. Pertempuran segera terjadi sampai pukul 13.00 bantuan belanda dari kota datang beserta pesawat terbangnya, pasukan gerilya pecah dan menghindarkan diri dari penghancuran tersebut. Terpecah menjadi pasukan yang kecil dan bergerak ketempat yang telah ditentukan.
Ketika belanda teris melakukan pembersihan setiap harinya sehingga rakyat menderita, dalam situasi ini kaum gerilya menerapkan taktik bumihangus yang sebelumnya kurang berhassil. Gedung persenjataan tugu dibakar, jembatan patangpuluhan diledakan, pabrik gula sorogedug dan padokan dihancurkan.padda tanggal 15 januari 1949 sepasukan musuh beraksi di daerah padokan, sekitar bantul-imogiri. Jatuh korban 16 orang dari pihak gerilya. Dua hari kemudian patroli musuh yang berkekuatan besar bergerak dari arah maguwo melalui bawuran menuju imogiri. Esok harinya musuh menyerang imogiri dari arah utara denagn 5 pesawat terbang, terjadilah tembak-menembak, korban dari pihak kita ada 3 orang.
Kotagede, dipinggir tenggara ibukota menjadi sarang gerilya yang panas, tanggal 25 januari siang patroli musuh membakari rumah dan menyita barang penduduk denagn sewenang-wenang. Pada 3 februari terjadi aksi pembersihan besar-besaran di sekitar kotagede, aksi mereka berlangsung selama 8 jam. Korban mencapai 2 orang tentara dan 23 rakyat.
Pada 8 april patroli musuh yang berkekuatan 1 peleton di dessa jonggalan-klemisan dikepung oleh pasukan penghadang. Dalam pertempuran yang sengit, ketika pasukan kita hampir kehabisan peluru, kita bersiap untuk pertempuran tangan kosong. Kemudian datang bantuan musuh sekitar 18 truk. Tempat persembunyian ditembaki mortir dan terjadi pertempuran dari dekat sesudahnya. Akhirnya pasukan kita mengundurkan diri karena tidak sanggup melawan pasukan besar musuh.
Serangan gangguan kita selama 6 jam ke dalam kota Yogyakarta pada 1 maret mungkin tidak berarti besar dalam hubungan operasi militer secara menyeluruh, dilihat dari segi jumlah kerugian pada kedua belah pihak. Memnagng aksi gerilya itu satu per satu kecil kelihatannya akan tetapi didalamnya tedapat tujuan hakiki perang gerilya, yaitu menimbulkan efek dalm bidang politik dan psikologis. Pada hatri selasa tanggal 1 maret pagi pos –pos Belanda yang berada di perbatasan kota telah ditembaki, tepat pada pukul 6 pagi gi berbagai tempat dikota terjadi penembakan secara hebat.
Segera militer belanda mengambil tindakan untuk menghalau serangan tersebut, sebuah kolone yang dihadapkan tehadap gerombolan yang menyerang dari selatan dengan melalui kota menuju ketempat yang terancam itu. Kolone itu mendapat tembakan yang hebat dari bagian kraton luar dan setelah kolone itu berhasil mencappai tembok utara dari kraton dalam, juga dialami penembakan dari dalam kraton. Pada saat itu belanda ditembaki oleh para penembak yang bersembunyi di pohon-pohon yang berada di kraton dalam. Karena itu komandan kolone meminta izin memasuki kraton, permintaan segera dikabulkan sri sultan. Setelah sri sultan menerangkan bahwa dihalaman kraton dalam tidak ada anggota gerombolan penyerang, maka tidask diadakan penyelidikan lebih lanjut dalam kraton dalam. Demikianlah perang gerilya di Yogya semakin berkobar dari hari ke hari dan memuncak sekitar waktu tercapainya persetujuan rum-royen,ini membuktikan kesanggupan rakyat dan tentara untuk melakukan perlawanan sampai beberapa waktu lamanya.
Meski terkesan sama seperti didaerah lain yang melakukan perlawanan secara gerilya, namun sesungguhnya bumi hangus di daerah Solo lebih hebat daripada didaerah yogya, karena lebih panjang waktu pelaksanaanya, sedangkan daerah Yogya sangat kompleks dalm hal pimpinan pertahanan, berhubung banyaknya instansi-instansi pusat. Salah satu serangan hebat terhadap solo adalah serangan yang dilancarkan tentara pelajar pada tanggal 16-17 maret 1949. Beberapa kelompok gerilya sekitar pukul 7 melakukan serangan terhadap tangsi polisi di panalaran, tangsi artileri di tipes, asrama polisi di baron, seksi polisi I, dan kantor MP di mangunjayan, pos militer bagian LTD di sriwedar dan stasiun balapan.

B.     Situasi Politik setelah Perjanjian Roem-Royen
Pada tanggal 7 Mei disepakati bahwa Sukarno dan Hatta akan memerintahkan genjatan senjata sekembalinya mereka ke Yogyakarta. Bahwa Belanda akan menerima pihak Republik pada Konferensi Meja Bundar yang akan digelar, dan bahwa mereka tidak akan mendirikan negara-negara federal baru.
Pada tanggal 6 Juli 1949, pemerintah Republik kembali ke Yogyakarta, yang sudah ditinggalkan oleh pasukan-pasukan Belanda pada akhir bulan juni. Soedirman dan pimpinan-pimpinan tentara lainnya enggan mengakui kekuasaan sipil yang mereka anggap telah meninggalkan Republik. Akan tetapi, pihak militer akirnya mengakui ketika Sukarno mengancam akan mengundurkan diri kalau mereka tidak melakukannya. Suatu konferensi diselenggarakan di  Yogyakarta dan Jakarta pada bulan Juli. Di dalam konferensi itu, negara-negara federal ternyata mempunyai banyak kepentingan yang sama dengan Republik, sebagian besar dikarenakan rasa hormat mereka atas perlawanan Republik dan kekecewaan mereka atas kelalaian Belanda untuk menyerahkan kekuasaan yang penting kepada mereka. Konferensi tersebut bersepakat bahwa tentara republik akan menjadi inti kekuatan militer bagi Republik Indonesia Serikat yang baru dan bahwa Sukarno serta Hatta akan menjadi presiden dan wakil presiden negara itu.
Pada tanggal 1 Agustus, diumumkanlah genjatan senjata yang akan mulai berlaku di Jawa pada tanggal 11 Agustus dan Sumatera pada tanggal 15 agustus. Justru sebelum genjatan senjata itu dilaksanakan, pasukan-pasukan Republik berhasil merebut kembali sebagian besar Surakarta dan mempertahankannya selama dua hari. Bentrokan-bentrokan berikutnya yang berdiri sendiri berlanjut sampai bulan Oktober. Akan tetapi, sedikit demi sedikit, penyerahan kekuasaan militer yang terintegrasi bagi RIS diurus oleh Hamengkubawana IX selaku koordinator keamanan. Akan tetapi, ada beberapa wilayah yang bergolak seperti Sulawesi Selatan, Sumatera Timur, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat, dimana proses ini mengahdapi perlawanan dari pasukan-pasukan liar setempat.
Dengan disepakatinya prinsip-prinsip Roem-Royen tersebut, pemerintah darurat RI di Sumatra memerintahkan kepada Sultan Hamengkubowono IX untuk mengambilalih pemerintahan di Yogyakarta apabila Belanda mulai mundur dari Yogyakarta. Partai politik yang pertama kali menyatakan setuju dan menerima baik tercapainya persetujuan Roem-Royen adalah Masyumi. Dr. Sukiman selaku ketua umum Masyumi menyatakan bahwa sikap yang diambil oleh delegasi RI adalah dengan melihat posisi RI di dunia internasional dan di dalam negeri sendiri, apalagi dengan adanya sikap BFO yang semakin menyatakan hasratnya untuk bekerjasama dengan RI. Sedangkan Mr. Surjono Hadinoto, ketua umum PNI menyatakan bahwa Persetujuan Roem-Royen merupakan satu langkah ke arah tercapainya penyelesaian dari masalah-masalah Indonesia. Akhirnya kedua partai ini mengeluarkan pernyataan bersama bahwa Persetujuan Roem-Royen sekalipun masih kurang memuaskan, namun beberpa langkah ke arah penyelesaian pertikaian Indonesia-Belanda.





























BAB III
KESIMPULAN
Pada intinya perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republk Indonesia dilakukan secara simultan/ beriringan antara perlawanan bersenjata seperti yang terjadi di Bandung, Bali, Ambarawa, Surabaya dan daerah lainnya, juga melalui jalur diplomasi yang arahnya untuk menarik simpati dunia Internasional seperti diplomasi beras ke India, Renville dengan KTN nya, Konferensi Asia yang dilaksanakan di New Delhi, Roem Royen dan sebagai diplomasi terakhir terdapat Konferensi Meja Bundar.
Terjadinya Agresi Militer Belanda menimbulkan reaksi yang cukup keras dari Amerika Serikat dan Inggris, bahkan PBB. Hal ini tidak lepas dari kemampuan pada diplomat Indonesia dalam memperjuangkan dan menjelaskan realita di PBB. Sebagai reaksi dari Agresi Militer Belanda, PBB memperluas kewenangan KTN. Komisi Tiga Negara diubah menjadi UNCI. UNCI kependekan dari United Nations Commission for Indonesia. UNCI dipimpin oleh Merle Cochran (Amerika Serikat) dibantu Critchley (Australia) dan Harremans (Belgia). Hasil kerja UNCI di antaranya mengadakan Perjanjian Roem-Royen antara Indonesia Belanda. Perjanjian Roem-Royen diadakan tanggal 14 April 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Sebagai wakil dari PBB adalah Merle Cochran (Amerika Serikat), delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh. Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh van Royen. Dalam perundingan Roem-Royen, masing-masing pihak mengajukan statement.
Jika melihat hasil dari perundingan Roem – Royen ini terlihat  bagaimana terdapat kesepakatan untuk menghentikan tembak menembak yang artinya terdapat gencatan senjata sampai berlangsungnya KMB, hal ini menguntungkan karena dapat meminimalisir jatuhnya  korban lebih banyak dipihak Indonesia. Dan dengan dibebaskannya tahanan politik serta pengembalian pemerintahan ke daerah Yogya  dari Bukit Tinggi, nantinya akan membuat stabilitas politik Indonesia bisa menjadi stabil, sampai dengan dilaksanakannya KMB sebagai perundingan yang menentukan kedaulatan republik Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. (1993). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Zailani, Dahlan. (2010). Perjanjian Roem-Royen 7 Mei 1949. [Online]. Tersedia: http://gogoleak.wordpress.com/2010/08/13/perjanjian-roem-royen-7-mei-1949/ [4 Agustus 2012]
Pujianti, Selvi M. (2011). Perundingan Roem-Royen Versi I. [Online]. Tersedia: http://selvimaharanipujianti.blogspot.com/2011/10/perundingan-roem-royen-versi-i.html [4 Agustus 2012]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar